Ekspor Gas Kemurahan, Indonesia Rugi Rp410,4 Triliun

JAKARTA–MICOM: Indonesia gagal memaksimalkan pemasukan devisa dalam jumlah sangat besar akibat memberlakukan kebijakan energi yang keliru.
Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) A Qoyum Tjandranegara mengatakan, pada periode 2006-2009, Indonesia ‘terpaksa’ kehilangan pemasukan hingga Rp410,4 triliun.
Itu terjadi karena melakukan penjualan gas bumi yang terlampau murah dan menggunakan hasil penjualan tersebut untuk mengimpor minyak.
“Indonesia lebih memilih mengimpor minyak ketimbang memaksimalkan potensi gas bumi. Ini jelas-jelas merugikan negara karena hasil jual energi murah dialokasikan untuk membeli bahan bakar yang lebih mahal,” kata Qoyum di Jakarta, Rabu (18/1).
Ia mengungkapkan, data pihaknya menunjukkan pada 2006 Indonesia kehilangan pemasukan atau devisa mencapai Rp91,9 triliun, 2007 kehilangan Rp101,2 triliun, 2008 kehilangan Rp140 triliun, dan 2009 kehilangan Rp77,3 triliun.
Dirinya mencontohkan, Indonesia mengekspor gas bumi ke China dan Korea Power dengan harga sangat murah, hanya US$3,88/MMBTU. Ironisnya, industri di dalam negeri sendiri banyak yang mengalami defisit gas.
Padahal faktanya, pelaku usaha dalam negeri banyak yang berani membeli gas seharga US$7/MMBTU, jauh lebih tinggi dari harga ekspor.
Indonesia juga merugi terkait lifting minyak bumi di Kilang Duri Riau yang digarap Chevron. Indonesia diperkirakan merugi sebesar US$2,1 miliar per tahun. (Atp/OL-5)
Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/18/292388/4/2/Ekspor-Gas-Kemurahan-Indonesia-Rugi-Rp4104-Triliun#docu