PENTINGKAH MELENGSERKAN NURDIN KHALID…?
Demonstrasi Pro dan Kontra para penggemar Sepakbola atas kepemimpinan Nurdin Halid seakan menjadi puncak dari perseteruan Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh MENPORA melawan PSSI. Nurdin Halid memang bukanlah orang yang tepat untuk memimpin PSSI, dan saya setuju agar Nurdin Halid mundur saja dari pencalonan sebagai ketum PSSI.
Tetapi saya melihat pemerintah dalam hal ini MENPORA kurang bijak dalam menangani masalah PSSI ini, seharusnya pemerintah cq. MENPORA lebih pintar mengelola konflik didalam tubuh PSSI sehingga tidak perlu sampai terjadi benturan di lapisan bawah yaitu masyarakat, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa baik yang Pro maupun yang Kontra.
Masyarakat juga tidak perlu terbawa arus pertikaian dalam perebutan posisi KETUM PSSI. Yakinlah selama PSSI hanya menjadi alat pencitraan parpol atau kekuasaan, selama itu pulalah prestasi PSSI tidak akan meningkat.
Jika ada yang menanyakan kepada saya apakah Nurdin Halid Perlu di demo….?, saya jawab saja….saya masih bisa hidup kalau tidak nonton bola, tetapi saya akan susah kalau harga beras dan bbm naik, biaya berobat tinggi, cari kerja susah. Jadi ngapain saya demo si Nurdin, biar aja pemerintah yang mencari cara memberhentikannya. Apa pemerintah kita gak punya power untuk menurunkan Nurdin sehingga perlu ada demo dan korban dulu….?, kapan majunya ….bung!
ADIOS…
Senja kembali mengguratkan warna merahnya pada langit, sementara bayangan wajahmu tak mengguratkan suatu kerinduan. Kerinduanmu telah habis oleh penantian yang tak pernah berakhir, ia tak menyisakan sedikitpun ruang untuk kembali membagi kisah-kisah lama yang dulu kau katakan indah.
Sungai siak membawa pergi begitu jauh airmatamu yang menetes jatuh, entah apa yang sedang terlintas di benakmu saat ini. Malam ini adalah malam yang panjang bagimu, tiupan angin seperti rajaman yang menyakitkan. Melambailah pada impian agar ia mengajakmu segera ke peraduan.
MENGAPA HARUS MENYIMPAN UANG DI BANK….?
Dahulu orang mengatakan bahwa tidak aman menyimpan uang dibawah bantal atau di dalam lemari, tetapi menurut saya jika anda hanya memiliki uang sampai tiga juta saja, lebih baik anda tidak usah menyimpan uangnya di bank. Mengapa begitu…?, karena biaya administrasi bank saja sudah mengurangi hasil yang anda dapatkan dari suku bunga simpanan. Belum lagi perilaku para banker nakal dan oknum-oknum pejabat BI dan juga pejabat negara, yang mempermainkan simpanan masyarakat hingga trilyunan rupiah. Bisa anda bayangkan kebijakan BLBI dan juga Bail Out yang di lakukan, sebenarnya adalah memakai uang negara yang diperoleh dari pajak rakyat. Seharusnya Bank tersebut tidak perlu di Bail out jika sejak awal pengawasan BI lebih ketat. Artinya bank-bank yang di indikasikan jadi “sapi perah” oknum pejabat atau parpol, sebaiknya langsung di tutup saja. tetapi sepertinya para pihak “bermain”. belum lagi keamanan Bank yang terlihat semakin lemah dalam menghadapi era global, termasuk dalam perangkat teknologi informasi yang masih sering “kebobolan”.
Jadi sebaiknya kita mencari alternatif lain selain menyimpan uang di Bank, atau sebaiknya anda investasikan uang ada kepada tetangga anda yang susah mendapatkan modal lalu anda membagi hasilnya. Atau anda investasikan sendiri pada bidang yang anda kuasai. Ataukah mari kita pikirkan alternatif lain, selain sistem perbankan yang sepertinya akan mulai ditinggalkan.
“bangsat !”
Bangsat kau !, kata seorang laki-laki dari ujung sana. Semua orang menoleh karena mengira mereka yang di panggil dengan ucapan itu. Sementara orang yang mengucapkan kata tersebut memalingkan mukanya karena malu telah mengucapkan kata-kata itu, yang sebenarnya tidak ia tujukan kepada siapapun, melainkan hanya ungkapan kekesalan karena ia tidak diterima bekerja.
Dari cerita tersebut di atas saya mengambil kesimpulan bahwa, kata “bangsat” tidak pantas dikeluarkan oleh seorang tokoh masyarakat. Karena kata bangsat adalah kata-kata sampah yang hanya dikeluarkan dari “tong” sampah.
LOGIKA RUMAH TERBAKAR (CENTURY GATE)
Saya sebenarnya merasa “aneh” dengan perumpamaan yang dibuat oleh pembicara dari Partai Demokrat di sebuah stasiun TV swasta sewaktu debat masalah Bank century. Jadi waktu itu lawan bicaranya mengumpamakan kasus century ini dengan kasus asuransi, sementara pembicara dari Partai Demokrat tersebut (saya lupa namanya) mengumpamakan kejadian Century ini sama dengan kasus rumah terbakar yang katanya kalau tidak disiram oleh pemadam kebakaran, akan menjalar ke rumah yang lain.
Apa sih yang ada dibenak beliau…?, sebenarnya perumpamaan yang beliau ungkapkan itu gak cocok untuk kasus century ini. Kenapa saya katakan demikian, lha yang mengambil kesimpulan rumah itu kebakaran cuman dia. Tetangganya yang lain melihat gak ada tuch kebakaran. Jadi bagaimana mungkin pemadam kebakaran disuruh memadamkan apinya, wong tetangganya yang menyaksikan rumahnya saja tahu bahwa dirumah itu gak kebakaran . Yang menjadi soal adalah si pemilik rumah ngotot bahwa rumahnya kebakaran dan perlu disiram oleh pemadam agar tidak menjalar. Rupanya setelah diteliti, oh ternyata dia cuman mau ngeluarin duit asuransi kebakaran.
Mungkin lebih baik kalau beliau memberi contoh logika, Rumah itu dirampok !, dan tetangganya pada gak tahu kalau rumah itu dirampok. Lha bagaimana mau tahu, wong yang merampok pemilik rumah itu sendiri. Tetangganya tahu rumah itu dirampok, setelah rumah itu ambruk dimakan tikus dan rayap secara berjamaah.
Tolong saudara/i tanggapi, bisa saja justru logika saya yang gak masuk akal………
